JAMBI– Ada uang yang sudah disiapkan negara untuk membantu anak-anak sekolah yang kekurangan. Uangnya bahkan sudah masuk ke rekening. Tapi sampai batas waktu, uang itu nggak pernah diambil. Akhirnya, kembali lagi ke kas negara.
Kejadian ini terjadi di SMKN 1 Muaro Jambi. Dana Program Indonesia Pintar atau PIP untuk siswa kurang mampu hangus karena rekeningnya tidak kunjung diaktifkan.
Anggota DPRD Provinsi Jambi dari Fraksi Gerindra, Abun Yani, mendengar kabar itu dan langsung merasa miris.
“Bayangkan anak-anak yang sudah berharap bisa beli buku, bayar transportasi, atau bantu orang tua. Eh, dananya ada tapi nggak bisa dipakai. Ini bukan salah anaknya. Ini kelalaian administrasi,” ujarnya pelan, tapi tegas.
Menurut Abun, sekolah seharusnya jadi jembatan. Kalau data penerima sudah keluar, tugas sekolah memastikan anak-anak tahu, didampingi, dan dibantu mengaktifkan rekeningnya sebelum tenggat waktu habis.
Ia khawatir, kejadian di SMKN 1 Muaro Jambi bukan yang pertama dan bukan yang terakhir kalau tidak ada perubahan.
Karena itu, Abun meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jambi segera turun tangan. Jangan hanya menegur, tapi lakukan evaluasi dan buat sistem yang memastikan hak siswa sampai ke tangan mereka.
“Sosialisasikan ke semua sekolah. Cek data penerima PIP secara rutin. Dan yang penting, kasih laporan terbuka ke wali murid. Biar nggak jadi gosip dan saling curiga,” katanya.
“Jangan biarkan anak-anak yang susah jadi korban kelalaian teknis. Tugas kita di sekolah dan di pemerintahan itu memastikan bantuan sampai, bukan hilang di jalan.” tendasnya.

0 Komentar