TANJUNG JABUNG BARAT – Janji rehab berubah jadi petaka. Jembatan Sungai Landak yang tengah diperbaiki ambruk tiba-tiba saat pekerja masih berada di atasnya. Air sungai langsung menelan mereka.


Peristiwa terjadi di tengah kesibukan proyek. Tanpa peringatan, struktur jembatan runtuh. Para pekerja yang sedang bekerja jatuh bersama beton dan besi ke arus Sungai Landak yang deras.


Satu orang dinyatakan hilang. Hingga malam, pencarian belum membuahkan hasil. Beberapa pekerja lain berhasil naik ke darat, tapi tubuh mereka gemetar bukan hanya karena dingin air sungai. Syok masih terlihat di wajah mereka.


“Satu pekerja masih belum ditemukan dan saat ini kami masih melakukan pencarian di sekitar lokasi sungai,” ujar warga yang ikut menyisir bantaran sungai dengan suara bergetar.


Hujan lebat dan arus yang deras membuat pencarian seperti melawan waktu. Material jembatan yang berserakan jadi rintangan. Warga hanya berbekal senter, tali, dan perahu kecil untuk menyisir titik-titik yang diduga menjadi tempat korban terseret.


Kemarahan mulai terdengar di antara warga. Pertanyaan yang sama berulang: mengapa jembatan yang sedang direhab dibiarkan dipakai bekerja tanpa kepastian struktur yang aman?


Penyebab resmi belum diumumkan. Tapi di lapangan, dugaan sudah mengerucut: struktur yang rapuh dipaksa menahan beban. Jika benar, ini bukan sekadar kecelakaan. Ini kelalaian yang merenggut nyawa.


Keluarga korban kini menunggu di tepi sungai. Mereka tak butuh janji proyek. Mereka butuh kepastian: jasad yang bisa dibawa pulang, dan jawaban mengapa orang mereka harus hilang di tempat yang seharusnya sedang diperbaiki.