MUARO JAMBI – 1 Juni. Hari Lahir Pancasila. Tapi buat H. Usman Halik, SE, Anggota DPRD Kab. Muaro Jambi Fraksi PDI Perjuangan, tanggal ini bukan sekadar seremoni.


“Pancasila bukan pajangan di dinding. Bukan hafalan waktu upacara. Pancasila adalah jiwa bangsa—harga mati. Kalau tidak diamalkan, kita cuma bangsa tanpa arah,” tegas H. Usman Halik.


Di poster resminya, ia pasang pesan keras di bawah bayangan Monas dan Garuda, Pancasila harus hidup di sawah, di pasar, di kantor, di kursi dewan.


H. Usman Halik mengingatkan, sila ke-5 “Keadilan Sosial” bukan jargon. Itu perintah.  


“Selama masih ada warga Muaro Jambi yang kesusahan akses sekolah, kesehatan, dan jalan rusak, berarti Pancasila kita belum utuh. Tugas wakil rakyat, pastikan tidak ada yang tertinggal,” sentilnya.


Ia juga menyentil sila ke-3 “Persatuan Indonesia”. Di era media sosial yang gampang pecah, H. Usman Halik menantang warga untuk tidak mudah diadu domba.


“Bedanya kita bukan untuk dibenturkan. Bhinneka Tunggal Ika bukan slogan, tapi cara kita hidup bertetangga. Itu ujian Pancasila yang paling nyata hari ini,” pungkasnya.