JAMBI – Hijau bendera Ansor menyala terang. Ribuan kader Banser berdiri tegak, mengepalkan tangan, menyanyikan “Ya Lal Wathan” sampai getarannya terasa di dinding Aula Sekretariat PW GP Ansor Provinsi Jambi. 

Minggu malam 2/6/2026 itu bukan malam biasa. Di usia 92 tahun, GP Ansor Jambi memukul meja, setelah sembilan dekade istiqomah menjaga NKRI dan para kiai, kini saatnya menjaga perut kader. Puncaknya, launching Badan Usaha Milik Ansor - BUMA yang dihadiri Gubernur Jambi, Ketua Umum GP Ansor H. Addin Jauharudin, dan Ketua PW GP Ansor Provinsi Jambi H. Habibi.

Suasana haru muncul saat H. Habibi naik podium. Bukan laporan kaku, tapi curhat pimpinan ke para sahabatnya.

“92 tahun Ansor jaga negara, jaga ulama, jaga gereja, jaga masjid. Tapi coba tanya kader Banser yang habis ronda malam, besok sarapan dari mana? BUMA jawabannya. Ini usaha kader, oleh kader, untuk kader,” tegas Habibi. 

Layar LED menampilkan logo BUMA. Tirai dibuka. Gubernur Jambi, H. Addin Jauharudin, dan H. Habibi bersama-sama menandatangani prasasti dan memotong tumpeng. “Allahu Akbar” menggema. Banser langsung hentak kaki. Sejarah baru tertulis malam itu.

Pidato Ketua Umum PP GP Ansor H. Addin Jauharudin bikin bulu kuduk berdiri. Beliau tak basa-basi.

“Ansor sudah lulus ujian 92 tahun menjaga bangsa. Ujian berikutnya lebih berat, menjaga kesejahteraan kader. Kalau perut lapar, dakwah serak. Kalau dompet tipis, idealisme goyah. Karena itu BUMA wajib jadi benteng baru Ansor,” lantang H. Addin.

Beliau membeberkan visi BUMA, mulai dari minimarket, pertanian, koperasi simpan pinjam, sampai startup digital. Targetnya jelas - kader Ansor-Banser jadi tuan rumah di kampungnya sendiri.

“Kita tidak minta jadi konglomerat. Kita minta kader Ansor tidak lagi jadi penonton ekonomi,” tambah H. Addin disambut tepuk tangan riuh.

Gubernur Jambi yang duduk semeja dengan H. Addin Jauharudin dan H. Habibi tak pelit pujian.

“Saya lihat sendiri konsistensi Ansor Jambi di bawah Nahkoda H. Habibi. 92 tahun jaga Jambi, sekarang berani masuk dunia usaha. Ini contoh pemuda yang tidak hanya orasi, tapi aksi. Pemprov siap buka akses, kasih pelatihan, dan kawal BUMA sampai ke desa-desa,” katanya.

Uniknya, di luar aula stan UMKM binaan Ansor sudah buka lapak. Kopi Ansor, madu hutan, keripik, sampai sembako dijual kader. Banser yang biasanya jaga barikade, malam itu juga belajar jadi kasir.

Harlah Ke-92 ditutup doa untuk KH Hasyim Asy’ari dan kader yang telah syahid. Tapi doa itu tidak mengakhiri semangat. Justru menyalakannya. 

Karena malam itu Jambi belajar satu hal menjaga Indonesia tidak cukup dengan semangat dan barisan. Harus ada nasi, ada kerja, ada usaha.