MUAROJAMBI – Masjid Desa Kunangan, Kecamatan Taman Rajo, dipenuhi lantunan shalawat dan isak tangis haru saat peringatan 10 Muharram 1448 H. Camat Taman Rajo M. Hanan hadir langsung, duduk bersila bersama warga dan menyerahkan santunan kepada anak yatim satu per satu.

Acara tak berhenti di santunan. Setelah doa bersama, suara pembacaan Burdah menggema mengisi malam. Yang membuat kagum, ini bukan acara setahun sekali. Di Desa Kunangan, Burdah rutin dibaca setiap seminggu sekali. Program sederhana dari Kepala Desa yang berhasil menghidupkan kembali syiar Islam di tengah masyarakat.

Melihat kekompakan itu, Camat M. Hanan tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. 

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Desa Kunangan ini. Harapan saya kegiatan seperti ini terus berlanjut agar dapat membantu para kaum duafa dan anak yatim,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Kepala Desa Kunangan Ihsan mengaku terharu melihat antusiasme warga. Program Burdah mingguan dan kotak infak ini idenya dari warga sendiri. 

"Alhamdulillah mereka kompak. Tiga bulan sekali kami buka kotak, hasilnya 12 sampai 15 juta. Ke depan kami juga siapkan untuk orang tua jompo. Ini bukti kalau gotong royong di Kunangan masih kuat,” jelas Ihsan.

Malam itu, sekitar 15 anak yatim menerima santunan. Tak ada dana APBD, tak ada proposal panjang. Santunan itu murni dari infak warga yang dikumpulkan di kotak masjid. Uang receh dari ibu-ibu ke pasar, dari petani pulang sawah, kini kembali ke warga dalam bentuk kepedulian.

Peringatan 10 Muharram di Kunangan jadi bukti desa kuat bukan karena anggarannya besar, tapi karena hatinya yang besar. Dengan Burdah tiap minggu dan infak yang konsisten, Desa Kunangan menunjukkan bahwa saling jaga dan berbagi masih jadi budaya utama masyarakat Muaro Jambi.